Postingan

Ditempat yang tepat, tanpa memiliki ( karena tidak semuanya cinta harus pulang )

  PROLOG Gue pernah jatuh cinta. Bukan sekali. Dan anehnya… semuanya terasa seperti pertama. Dulu gue pikir, cinta pertama itu sederhana. Datang, bikin bahagia, lalu selesai. Tapi ternyata nggak segampang itu. Cinta pertama gue bukan cuma tentang siapa yang pertama kali gue panggil “pacar”. Lebih dari itu. Itu tentang seseorang yang datang di waktu yang salah, tapi ninggalin rasa yang terlalu dalam untuk disebut sekadar kenangan. Namanya Adit. Dan dari dia, gue belajar satu hal— bahwa hati bisa terbuka… tanpa kita benar-benar siap. — Lalu gue bertemu dia. Damar. Nggak ada yang dramatis. Nggak ada yang tiba-tiba. Dia cuma… ada. Di ruang kelas yang sama. Di waktu yang sama. Di kehidupan gue yang, tanpa gue sadari, pelan-pelan berubah. Dan entah sejak kapan, perasaan itu tumbuh lagi. Bukan seperti sebelumnya. Lebih tenang. Lebih diam. Tapi justru lebih dalam. — Gue dan Damar nggak pernah benar-benar mulai. Tapi juga… nggak pernah benar-benar selesai. Kita cuma berputar. Di waktu yang ...