Ditempat yang tepat, tanpa memiliki ( karena tidak semuanya cinta harus pulang )

 PROLOG

Gue pernah jatuh cinta.

Bukan sekali.

Dan anehnya… semuanya terasa seperti pertama.

Dulu gue pikir, cinta pertama itu sederhana.
Datang, bikin bahagia, lalu selesai.

Tapi ternyata nggak segampang itu.

Cinta pertama gue bukan cuma tentang siapa yang pertama kali gue panggil “pacar”.

Lebih dari itu.

Itu tentang seseorang yang datang di waktu yang salah,
tapi ninggalin rasa yang terlalu dalam untuk disebut sekadar kenangan.

Namanya Adit.

Dan dari dia, gue belajar satu hal—
bahwa hati bisa terbuka… tanpa kita benar-benar siap.

—

Lalu gue bertemu dia.

Damar.

Nggak ada yang dramatis.
Nggak ada yang tiba-tiba.

Dia cuma… ada.

Di ruang kelas yang sama.
Di waktu yang sama.
Di kehidupan gue yang, tanpa gue sadari, pelan-pelan berubah.

Dan entah sejak kapan,
perasaan itu tumbuh lagi.

Bukan seperti sebelumnya.

Lebih tenang.
Lebih diam.
Tapi justru lebih dalam.

—

Gue dan Damar nggak pernah benar-benar mulai.

Tapi juga… nggak pernah benar-benar selesai.

Kita cuma berputar.

Di waktu yang sama,
di perasaan yang nggak pernah benar-benar menemukan tempatnya.

Sampai akhirnya… waktu membawa kita ke jalan yang berbeda.

Dia melanjutkan hidupnya.

Menikah.
Punya keluarga.
Punya kebahagiaan yang bukan lagi tentang gue.

Dan gue?

Gue juga tetap berjalan.

Awalnya gue pikir itu akan menyakitkan.

Kehilangan tanpa pernah benar-benar memiliki.

Tapi ternyata… tidak.

—

Pada akhirnya, gue sampai di titik di mana gue nggak lagi ingin memiliki.

Gue cuma… menerima.

Aneh ya,
melihat orang yang pernah kita simpan di hati,
bahagia dengan hidupnya sendiri—
dan kita nggak hancur.

Gue justru tenang.

Karena ternyata, mencintai seseorang nggak selalu harus berakhir dengan memiliki.

Ada cinta yang cukup ditempatkan… di tempat yang tepat.

Nggak dipaksakan untuk dekat,
nggak juga dipaksa untuk hilang.

Gue tetap hidup.
Tetap berjalan.
Tetap membuka kemungkinan baru.

Dan dia?

Tetap gue jaga…
bukan sebagai harapan,
tapi sebagai rasa yang pernah tumbuh dengan jujur.

—

Ini bukan cerita tentang gagal move on.

Ini cerita tentang… belajar menerima.

Bahwa mencintai seseorang,
nggak selalu berarti harus bersama.

Dan mungkin,
itulah bentuk cinta yang paling jujur.

===========================================

BAB 1
Awal Yang Biasa

Nama gue Aluna.

Gue lahir di bulan Januari. Kata orang, bulan di mana semuanya masih terlalu awal buat berharap banyak. Mungkin itu juga yang bikin gue tumbuh jadi orang yang nggak terlalu percaya sama hal-hal pasti… tapi malah gampang percaya sama rasa.

Gue bukan tipe yang mencolok.

Nggak jelek, tapi juga bukan yang paling cantik di ruangan. Orang-orang bilang muka gue agak tegas. Mata gue nggak sepenuhnya hitam—kalau kena cahaya, ada coklatnya sedikit. Alis gue tebal, bibir gue tipis, tapi lesung pipi gue sering muncul sendiri… kayak mau nolongin biar gue nggak keliatan terlalu dingin.

Tinggi gue ya standar. Nggak pendek, nggak tinggi. Biasa aja.

Dan mungkin… itu kata yang paling cocok buat gue.

Biasa.

Gue lebih sering diem. Nggak terlalu suka keramaian. Lebih nyaman baca buku atau nulis hal-hal yang kadang gue sendiri juga nggak ngerti maksudnya apa.

Gue suka filsafat.

Iya, aneh. Di saat orang lain pusing sama pelajaran, gue malah seneng mikirin hal-hal kayak,
“manusia tuh sebenernya nyari apa sih?”

Makanya gue suka Socrates.

Daripada matematika yang tiap gue lihat rasanya kayak baca bahasa alien, gue lebih milih kata-kata. Kalimat yang nggak harus selalu tepat… tapi bisa kerasa benar.

Gue juga suka musik yang nggak semua orang dengerin. Jazz, RnB, lagu-lagu lama. Lagu yang bukan cuma didenger, tapi… kerasa.

Hidup gue waktu itu simpel banget.

Sekolah.
Pulang.
Les.

Ulang lagi.

Dan gue pikir… hidup gue bakal terus kayak gitu.

Tenang. Teratur. Nggak aneh-aneh.

Sampai gue salah.

Mungkin… dari awal, hidup gue memang nggak pernah benar-benar sesederhana itu.

Apalagi kalau ngomongin rumah.

Gue lahir dari dua orang yang beda banget.

Nyokap gue… lembut. Banget.

Dia tipe yang dengerin dulu baru ngomong. Nggak pernah maksa, nggak pernah bentak. Sama dia, gue ngerasa aman.

Sementara Ayah gue…

kebalikannya.

Semua harus teratur. Harus benar. Harus sesuai aturan.

Dan gue harus jadi sesuatu yang bisa dibanggain.

Nilai harus bagus. Nggak ada alasan.

Dan satu hal yang paling gue inget sampai sekarang—

“Jangan pacaran waktu sekolah. Kalau Ayah tahu… bakal Ayah nikahin.”

Dia ngomongnya santai.

Tapi justru itu yang bikin gue takut.

Sejak saat itu, gue kayak… nutup diri aja.

Bukan nggak mau.

Tapi nggak berani mulai.

Temen-temen gue udah punya cerita masing-masing.

Ada yang nungguin chat sebelum tidur.
Ada yang deg-degan tiap dijemput di depan sekolah.
Ada yang tukeran hadiah kecil yang menurut mereka spesial banget.

Dan gue?

Cuma dengerin.

Kadang iri. Tapi ya udah.

Gue pikir, hidup gue bakal aman-aman aja kalau gue nggak macem-macem.

Dan iya…

sempat kayak gitu.

Sampai akhirnya…

ada satu orang yang datang, sebentar doang

tapi cukup buat ngebuka sesuatu di diri gue
yang selama ini gue kunci rapat-rapat.

===================

Waktu itu musim hujan.

Dan entah kenapa, dari dulu gue selalu suka hujan.
Bukan karena romantis atau apa…
tapi karena hujan selalu bikin semuanya terasa lebih tenang.

Lebih jujur.

Gue nggak inget bulan apa,
tapi ada satu hal yang gue inget jelas—

hari itu, pertama kalinya bokap ngasih gue HP.

LG GW 300.

Buat orang lain mungkin biasa aja.
Tapi buat gue?

Itu kayak dunia baru yang tiba-tiba kebuka.

“Ini buat kamu,” kata bokap waktu itu.
“Karena kamu sudah belajar dengan giat. Tapi ingat… jangan simpan nomor laki-laki.”

Gue cuma ngangguk.

Padahal di dalam hati…
gue seneng banget sampai nggak bisa dijelasin.

Akhirnya gue punya HP juga.

Akhirnya gue nggak perlu lagi jawab,
“Maaf ya, gue belum punya Line,”
setiap teman-teman sekelas minta ID.

Dan seperti anak remaja pada umumnya—
hal pertama yang gue lakuin adalah download semua social media.

Facebook.

Gue bikin akun pertama gue dengan nama yang sekarang kalau diingat… bikin geli sendiri.

aloenagirlscute.

Gue pasang foto profil dengan pose bibir manyun.
Gue add semua orang—teman sekolah, teman komplek, bahkan orang yang gue sendiri nggak terlalu kenal.

Waktu itu gue cuma mikir satu hal:

gue nggak mau ketinggalan lagi.

—

Pagi itu, gue berangkat sekolah seperti biasa.

Pakai seragam putih abu-abu,
tapi rasanya beda.

Ada yang gue genggam lebih erat dari biasanya.

HP baru gue.

Gue bahkan nggak sadar kalau cara gue megangnya kayak lagi pamer.
Padahal ya… emang pengen dilihat orang juga sih.

Gue duduk di bangku gue—nomor dua dari pintu.

Dan seperti biasa, di sebelah gue ada sahabat gue.

Namanya Rania.

Anaknya pintar. Lembut. Tenang.
Tipe yang disayang semua orang.

Kalau orang bilang kita mirip, gue selalu nggak setuju.

Menurut gue, dia lebih cantik.

Tapi… entah kenapa,
gue selalu ngerasa gue punya sesuatu yang dia nggak punya.

Mungkin cara gue lihat dunia.
Atau mungkin… cara gue menyimpan rasa.

“HP gue baru,” kata gue sambil nunjukin ke dia.

Rania langsung kaget.
“Serius? Dari bokap lo?”

Gue cuma ngangguk,
dengan senyum yang jujur aja agak sombong.

“Coba sini, foto. Bagus nggak kameranya?”

Dan pagi itu…
hal sesederhana foto bareng sahabat,
terasa kayak momen besar dalam hidup gue.

Seolah-olah, semuanya baru aja dimulai.

—

Beberapa hari setelah itu,
semuanya berubah… pelan-pelan.

Awalnya cuma dari Facebook.

Nggak ada yang spesial.

Cuma satu notifikasi—
permintaan pertemanan dari seseorang
yang namanya terasa asing, tapi nggak sepenuhnya juga.

Adit.

Katanya dia anak dari tempat les ngaji gue.

Gue nggak terlalu inget wajahnya,
tapi yaudahlah… gue terima aja.

Nggak lama, muncul chat di Messenger.

“Hai… lu Aluna ya?”

Simple.

Gue baca.
Tapi nggak langsung gue bales.

Gue cuma liatin layar HP gue,
sambil mikir—

ini orang siapa sih sebenarnya?

Beberapa menit kemudian, dia chat lagi.

“Boleh minta nomor lu?”

Gue langsung diem.

Kita aja belum ngobrol.
Gue juga belum tau dia siapa sebenarnya.

Dan anehnya…
yang langsung muncul di kepala gue malah satu hal—

bokap.

Pesannya masih jelas:

jangan simpan nomor laki-laki.

Gue pegang HP itu lebih erat.

Baca ulang chatnya.

Lalu… gue milih diam.

Nggak gue kasih nomor.
Nggak gue jawab juga.

Bukan karena gue jual mahal.

Tapi karena…
ada batas yang gue takut untuk lewatin.

Dan mungkin, saat itu…
gue masih ingin tetap jadi versi gue yang aman.

Gue pikir semuanya bakal selesai sampai situ.

Cuma kenal sekilas di Facebook.
Cuma nama yang lewat, lalu hilang.

Tapi gue salah.

Karena beberapa hari kemudian…

HP gue bunyi lagi.

Nomor baru.

Dan tanpa gue sadar—

cerita gue
pelan-pelan mulai bergerak.

Bukan tentang siapa yang datang…

tapi tentang perasaan
yang nantinya
akan belajar
menemukan tempatnya sendiri.

===============

Nggak ada nama.
Nggak ada foto.

Cuma deretan angka asing
yang tiba-tiba muncul di layar gue.

Gue liatin cukup lama.

Entah kenapa…
ada perasaan kecil yang nyuruh gue buat nunggu.

Dan benar aja.

Beberapa detik kemudian,
masuk satu pesan.

“H1… 1n1 gw Ad1t :)
b0leh ken4lan k4n?”

Gue langsung diem.

Alay banget.

Campur angka sama huruf kayak gitu
yang waktu itu… justru lagi tren banget.

Dan anehnya,
gue ngerti.

Karena… gue juga kayak gitu.

Gue baca lagi pesannya.

Versi “normalnya” langsung kebaca di kepala gue:

“Hi… ini gue Adit. Boleh kenalan, kan?”

Harusnya gue bisa aja langsung ilfeel.
Atau nggak bales sama sekali.

Tapi yang terjadi justru sebaliknya.

Gue malah senyum sedikit.

Nggak jelas kenapa.

Mungkin karena cara dia muncul… terasa ringan.
Nggak maksa.

Atau mungkin… karena ini pertama kalinya
ada laki-laki yang berusaha masuk ke hidup gue
dengan cara yang sederhana.

Gue masih inget jelas
gue pegang HP itu agak lama.

Ngetik.

Hapus.

Ngetik lagi.

Berhenti.

Kayak lagi nahan sesuatu
yang bahkan gue sendiri belum ngerti apa.

Sampai akhirnya…

gue bales.

Dan dari satu balasan itu,
hal-hal kecil mulai berubah.

Pelan-pelan.

Tanpa suara.

Tanpa peringatan.

Dan gue belum tau saat itu—

bahwa percakapan sederhana
yang dimulai dari tulisan aneh
yang bahkan nyaris gue abaikan…

akan jadi awal
dari cerita pertama
yang ngajarin gue
tentang rasa.

1.1 — PESAN YANG MULAI DITUNGGU

Setelah malam itu,
entah kenapa… semuanya jadi terasa berbeda.

Chat gue sama Adit mulai intens.

Nggak langsung yang panjang atau dalam,
awal-awal masih biasa aja.

Gue bahkan masih balesnya singkat.

Seperlunya.

Seaman mungkin.

Tapi anehnya…
dia selalu ada.

Setiap hari.

Setiap malam.

Sampai tanpa gue sadar,
gue mulai melakukan sesuatu yang dulu nggak pernah gue lakuin.

Gue ganti nama kontaknya.

Bukan Adit.

Tapi… nama perempuan.

Supaya kalau suatu saat ayah ngecek HP gue,
nggak akan ada yang mencurigakan.

Lucu ya…

padahal belum tentu juga dia sepenting itu.

Tapi gue sudah mulai menyembunyikannya.

—

Malam-malam gue juga berubah.

Dulu, habis belajar, gue langsung tidur.

Nggak ada yang ditunggu.

Nggak ada yang bikin gue bertahan lebih lama.

Sekarang?

Ada.

Waktu belajar,
mata gue masih ke buku…

tapi pikiran gue nggak sepenuhnya di sana.

Kadang gue curi-curi pandang ke HP.

Nunggu.

Padahal gue tahu…
harusnya gue fokus.

Harusnya gue nggak kayak gini.

Dan mungkin… orang-orang dulu benar.

Kalau masih sekolah,
jangan dulu pacaran.

Jangan dulu kenal terlalu jauh sama perasaan yang belum waktunya.

Tapi ya…

namanya juga remaja.

Selalu merasa bisa mengendalikan sesuatu
yang sebenarnya pelan-pelan mengendalikan kita.

—

Setiap notifikasi bunyi,
rasanya kayak ada yang langsung narik perhatian gue.

Buku yang tadi gue pegang…
tiba-tiba jadi nggak penting.

Dan yang lebih aneh lagi—

Adit itu… bukan tipe gue banget.

Kalau dipikir sekarang,
gue juga nggak tahu kenapa bisa tertarik.

Dia tinggi.

Jauh lebih tinggi dari gue.

Wajahnya tenang…
tapi ada sedikit kesan bad boy.

Yang—kalau kata anak sekarang—justru bikin penasaran.

Apalagi dia sekolah di tempat yang isinya cowok semua.

Dan terkenal…

tukang tawuran.

Kalau gue bayangin sekarang—
gimana reaksi ayah kalau tahu gue dekat sama laki-laki kayak dia…

mungkin semuanya bakal langsung selesai bahkan sebelum mulai.

Tapi waktu itu,
gue nggak mikir sejauh itu.

Gue cuma ngerasain.

Dan semuanya terasa… baru.

—

Dari yang awalnya cuma bales singkat,
gue mulai cerita.

Pelan-pelan.

Tentang hari gue.
Tentang sekolah.
Tentang hal-hal kecil yang sebenarnya nggak penting…

tapi jadi penting karena ada yang dengerin.

Dan beberapa kali,
kita bahkan teleponan.

Dengan suara lirih.

Pelan banget.

Hampir berbisik.

Takut ketahuan.

Karena ibu biasanya bakal cek kamar
kalau sudah lewat jam delapan malam.

Jadi gue harus pura-pura tidur.

Lampu dimatiin.

Tapi HP masih gue genggam.

Dekat banget.

Seolah-olah, dari benda kecil itu…
ada dunia lain yang lagi gue jaga diam-diam.

—

Dan dari semua itu,

gue mulai sadar satu hal kecil.

Yang awalnya cuma pesan biasa…
sekarang mulai gue tunggu.

Bukan karena harus.

Bukan karena penting.

Tapi karena…

ada perasaan yang pelan-pelan tumbuh,
tanpa gue minta.

Dan tanpa gue sadari sepenuhnya.

Perasaan yang nantinya…
akan jadi cerita pertama gue.

Tentang seseorang
yang awalnya bukan siapa-siapa—

tapi perlahan,
mulai jadi sesuatu.

Dan mungkin…
kalau waktu itu ada yang bertanya ke gue—

“Ini akan jadi apa?”

gue nggak akan punya jawaban.

Karena semuanya terasa ringan.
Biasa.
Seperti hari-hari lainnya.

Tapi sekarang gue tahu—

justru dari hal-hal yang terasa biasa itulah,
hidup diam-diam mulai berubah.

Dan dari pesan-pesan sederhana yang gue tunggu setiap malam…

gue perlahan belajar satu hal yang baru—

bahwa perasaan,
tidak pernah datang dengan suara.

Dia hadir pelan-pelan.

Dan saat kita menyadarinya…
biasanya, kita sudah terlalu jauh di dalamnya.

Bab II: Pelan Pelan Jadi Kebiasaan 

Setelah malam itu, harusnya ada yang berubah.

Harusnya, kan?

Soalnya sekarang statusnya udah beda.
Dari yang tadinya cuma chat biasa… jadi “pacar”.

Tapi anehnya,
nggak ada yang langsung terasa beda.


Chat kami tetap sama.

Masih tanya hal-hal biasa.
Masih cerita hal-hal kecil.

Nggak ada perubahan yang tiba-tiba bikin semuanya jadi lebih spesial.

Dan gue mulai mikir

ini tuh emang gini ya?
Atau gue yang nggak ngerti harus ngerasain apa?


Tapi walaupun nggak ada yang berubah secara jelas,
ada satu hal yang pelan-pelan beda.

Gue mulai nunggu.


Dulu, HP cuma gue cek kalau ada perlu.
Sekarang, tanpa sadar, gue sering buka layar cuma buat lihat…

ada chat dari dia atau nggak.

Kadang nggak ada.

Tapi tetap gue cek lagi.
Dan lagi.
Dan lagi.

Kayak ada sesuatu yang pelan-pelan narik gue ke situ.


Gue juga nggak tahu kenapa bisa sampai segitunya.

Padahal kalau dipikir-pikir,
Adit bukan tipe gue banget.

Dia tinggi.
Tinggi banget malah.

Kalau berdiri sebelahan, mungkin gue cuma sampai bahunya.

Wajahnya juga nggak yang gampang ditebak.
Bukan yang langsung bikin nyaman.

Lebih ke… tenang, tapi kayak nyimpen sesuatu.

Dan yang paling bikin gue kepikiran
dia sekolah di tempat yang isinya cowok semua.

Sekolah yang, kalau Ayah tahu,
mungkin gue nggak akan dikasih ruang buat deket.


Harusnya gue takut.

Dan gue memang takut.

Tapi anehnya,
di balik semua itu… gue tetap nunggu dia.


Gue masih tetap belajar.
Masih duduk di meja, buka buku seperti biasa.

Dari luar, semuanya kelihatan sama.

Tapi di dalam… nggak juga.

Fokus gue nggak lagi utuh.

Ada sebagian dari gue yang selalu nunggu bunyi kecil dari HP di samping.

Dan setiap kali itu bunyi—

gue langsung berhenti.

Seolah-olah itu lebih penting dari apa pun yang lagi gue lakuin.


Adit juga… tetap Adit yang sama.

Nggak tiba-tiba jadi romantis.
Nggak berubah jadi sosok yang beda setelah gue bilang iya.

Dia tetap chat seadanya.
Kadang singkat.
Kadang hilang, lalu muncul lagi seperti biasa.

Tapi mungkin justru itu yang bikin semuanya terasa ringan.

Nggak ada tekanan.
Nggak ada tuntutan.

Cuma… jalan aja.


Kadang gue mikir,

apa gue benar-benar suka?

Atau gue cuma lagi menikmati perasaan baru ini?

Perasaan punya seseorang
yang bisa gue hubungi kapan aja,
yang ada di sana,
walaupun cuma lewat layar.


Beberapa kali, kami teleponan.

Masih dengan cara yang sama—pelan, hampir bisik.

Gue selalu hati-hati.

Takut ketahuan.
Takut semuanya berhenti sebelum gue sempat ngerti ini semua.

Apalagi kalau sampai Ayah tahu
gue deket sama cowok seperti dia.


Dan tanpa sadar,

hari-hari mulai jalan dengan pola yang sama.

Pagi—sekolah seperti biasa.
Siang—ketawa sama teman-teman.
Malam—kembali ke dunia kecil itu.

Dunia yang cuma gue dan dia yang tahu.


Gue nggak pernah benar-benar nanya ke diri sendiri,
ini bakal ke mana.

Gue cuma jalanin.

Karena sejauh ini, semuanya masih terasa… cukup.


Tapi mungkin memang begitu awalnya.

Nggak selalu dimulai dari rasa yang besar.
Nggak selalu dimulai dari sesuatu yang jelas.

Kadang, semuanya cuma dimulai dari kebiasaan kecil—

yang diulang terus,
sampai akhirnya jadi sesuatu
yang tanpa sadar… kita butuhin.

…Sampai akhirnya, gue mulai ngerasa sesuatu yang beda.

Bukan beda yang manis.
Tapi beda yang… bikin gue pelan-pelan mikir.


Awalnya kecil.

Status kita memang “pacaran”.
Tapi rasanya nggak pernah benar-benar seperti itu.

Nggak ada arah.
Nggak ada kejelasan.

Dan Adit… mulai terasa jauh, bahkan saat dia masih ada.


Ada satu hari,
dia nggak ngechat gue sama sekali.

Dan anehnya—gue juga nggak.

Hari itu berjalan… biasa aja.

Kayak sebelum gue kenal dia.

Dan di situ gue sadar,
ternyata gue masih bisa tanpa dia.


Tapi tiba-tiba, malamnya dia muncul lagi.

Seolah nggak terjadi apa-apa.

“Gue nggak punya pulsa, beliin gue pulsa dong.”


Gue sempat diem.

Tapi akhirnya gue jawab,
“yaudah.”

Gue bantu.

Karena di kepala gue waktu itu—
bukannya pacaran memang saling bantu?


Tapi itu nggak berhenti di situ.

Pelan-pelan,
permintaannya jadi makin sering.

Makin banyak.

Dan anehnya,
gue tetap iya-in.


Sampai suatu hari,
gue lagi di Bali sama keluarga.

Harusnya itu jadi momen gue buat lepas,
buat nikmatin waktu bareng mereka.

Tapi di tengah itu semua,
dia bilang,

“jangan lupa beliin gue kaos Joger ya. Yang ukuran L.”


Dan lagi-lagi,
gue cuma jawab dalam hati—

yaudah.

Mungkin dia belum pernah ke Bali.


Gue tahu keluarganya nggak seperti gue.

Keluarga gue… walaupun Ayah keras,
tapi hangat.

Selalu ada.
Selalu saling jaga.


Sedangkan dari cerita Adit—
semuanya terasa kosong.

Dia pernah cerita,
dengan suara yang nggak biasa,
hampir nangis.

Tentang rumah yang nggak benar-benar terasa seperti rumah.

Tentang orang tua yang lebih sibuk dengan dunia masing-masing.

Tentang kabar yang bahkan dia sendiri nggak yakin benar atau nggak—
tentang ayahnya yang katanya sering selingkuh.


Gue nggak pernah tahu pasti.

Karena Adit juga nggak benar-benar terbuka.

Tapi dari caranya cerita…
gue tahu, ada sesuatu yang retak di sana.


Mungkin itu juga yang bikin gue terus maklumin dia.

Terus ngerti dia.

Atau… setidaknya, gue pikir gue ngerti.


Sampai suatu malam,
sepupu gue kirim video.

Adit.

Di tempat yang bahkan gue nggak pernah bayangin dia ada di sana.

Dugem.
Mabuk.

Padahal… dia masih sekolah.


Dan entah kenapa,
reaksi pertama gue bukan marah.

Tapi pembenaran.

“Ya mungkin… memang itu lingkungannya.”


Tapi di situ juga,
ada sesuatu dalam diri gue yang mulai nggak tenang.


Bukan cuma soal dia.

Tapi soal cara dia melihat hidup.

Cara dia memperlakukan hal-hal yang menurut gue penting.

Termasuk… Tuhan.


Gue dibesarkan dengan rasa takut,
hormat,
dan cinta yang jelas ke Tuhan.

Ada batas.
Ada arah.


Tapi di dia—
gue nggak melihat itu.

Dan buat gue,
itu asing.

Aneh.

Dan entah kenapa…
pelan-pelan mulai bikin gue menjauh,
walaupun gue masih tetap di situ.

…Entah sejak kapan,
gue udah nggak lagi ngerasain perasaan yang dulu sempat gue tunggu-tunggu.

Yang kayak—
“oh ini pacar gue”
“oh gue punya seseorang”

Nggak ada.

Kosong.

Bahkan kadang gue mikir,
“ini mah… sama aja.”


Dan yang lebih jujur lagi—

gue mulai ngerasa… tertekan.


Tiba-tiba Adit ngajak ketemuan.

Gue udah bilang dari awal,
gue takut.

Bukan takut biasa.
Tapi takut yang nggak bisa gue jelasin.

Kayak ada sesuatu dalam diri gue yang nolak keras.


Tapi dia maksa.

Terus maksa.

Sampai akhirnya dia bilang,

“kamu sayang aku nggak sih?
Masa pacaran cuma kayak gini, nggak pernah ketemuan.”


Gue diem.

Dalam hati gue cuma mikir—

bukannya dari awal dia udah tahu?
Bukannya ini konsekuensi yang harusnya dia ngerti?

Kenapa sekarang jadi gue yang dipaksa berubah?


Dan di titik itu,
sesuatu mulai terasa… nggak benar.


Sampai satu momen,
dia ngomong sesuatu.

Hal yang—

jujur aja,
nggak pantas keluar dari mulut seorang siswa.

Menjijikkan.


Di situ, semuanya makin campur aduk.

Takut.
Nggak nyaman.
Bingung.

Tapi gue masih belum tahu…
gimana cara berhenti.


Besoknya, hari Selasa.

Pelajaran pertama—ekonomi.

Kepala gue pusing.
Mata gue sembab.

Bukan karena gue nangis kehilangan dia.

Tapi karena gue nggak tahu
gimana cara keluar dari ini.


“Lu kenapa?” Rania nanya.

“Enggak kok,” jawab gue cepat.

“Masalah sama Adit ya?”

Gue langsung nengok.

Karena cuma dia yang tahu.

“…enggak.”


Rania nggak maksa.

Dia cuma tiba-tiba bilang,
“boleh nggak kita tukeran tempat duduk?”

Gue bingung.

“Hah? Sama siapa?”

“Gue mau duduk sama—” dia nyebut satu nama,
yang sekarang rasanya lebih baik gue samarkan aja.

Sebut saja… Raka.


Gue langsung nengok ke belakang.

Raka itu… ya, cowok biasa aja.

Nggak yang langsung bikin orang nengok dua kali.

Kulitnya tan,
sedikit berjerawat,
rambutnya keriting agak berantakan.

Badannya kurus,
nggak tinggi—bahkan hampir setinggi Rania yang sekitar 160-an.

Mas-mas Jawa pada umumnya.


“Terus gue sama siapa?” gue tanya.

Rania cuma senyum.

Aneh.


Tanpa banyak penjelasan,
dia langsung jalan ke belakang.

Dan dalam hitungan detik,
semuanya sudah diatur.

Seolah-olah… dia memang sudah merencanakan ini.


Belakangan, gue baru sadar—

cara dia lihat Raka waktu itu,
nggak cuma sekadar teman.

Tapi ya… itu cerita lain.


Sekarang, yang gue tahu cuma satu:

gue ditinggal di depan.

Dan harus duduk sama seseorang
yang bahkan jarang gue ajak ngobrol.


Cowok itu pindah.

Duduk di sebelah gue.


Dia sempat lihat gue.

Lumayan lama.

Sambil senyum tipis.

Lalu—
tidur.

Kepalanya langsung jatuh ke meja.


Dalam hati gue cuma bisa mikir—

ini apaan sih…

spesies apa lagi ini.


Gue condong sedikit,
lalu bisik,

“heh… bangun.
Bu ekonomi udah masuk.”


Dia angkat kepala pelan.

Lihat gue.

Terus balas bisik,

“Heh, heh.
Nama kita berdekatan di absen,
tapi lo manggil gue ‘heh’?
Nggak sopan.”


Sumpah.

Di situ gue pengen mukul.

Atau minimal ngumpat.


“Coba ulangi,” katanya santai.

Gue tarik napas.

“…Mar.”

Sedetik.

“Damar, bangun.”


Dia langsung duduk tegak.

Dan gue nggak tahu dia tadi beneran tidur atau cuma pura-pura.

Karena setelah itu,
dia lihat gue—

dengan tatapan yang aneh.

Tajam, tapi santai.

Kayak dia tahu sesuatu yang gue nggak tahu.


Dan ekspresinya—

senyum tipis itu lagi.

Menggoda.
Nyebelin.

Tapi entah kenapa…

di tengah semua yang lagi berantakan ini,
kehadirannya terasa berbeda.


Kayak sesuatu yang datang
di waktu yang nggak tepat—
tapi tetap datang.

Setelah itu,

hubungan gue sama Adit makin berantakan.

Nggak ada lagi yang namanya tenang.

Setiap malam,

selalu ada aja yang diperdebatkan.

---

Mulai dari hal yang sama—

dia mau ketemu.

Dan bukan sekadar ketemu.

Dia mulai ngomong soal ciuman.

---

Gue langsung nggak nyaman.

Banget.

---

Dia maksa dengan cara yang aneh.

Kadang marah.

Kadang maksa.

Kadang… nangis.

Bilang kangen.

Bilang butuh gue.

Tapi setelah itu—

hilang.

---

Dan semua itu diulang lagi.

Terus.

---

Sampai akhirnya,

hari ulang tahunnya datang.

Dan entah kenapa,

yang gue rasain bukan pengen bikin dia bahagia—

tapi… kesel.

---

Dia minta hadiah.

Dan gue langsung mikir—

*gue dapet uang dari mana?*

Di rumah,

semuanya selalu cukup.

Tapi cukup untuk sekolah.

Bukan untuk hal-hal kayak gini.

---

Dan di situ,

gue capek.

Beneran capek.

---

“Ngapain sih gue punya pacar kalau kayak gini?”

“PR banget…”

“Mending udahan aja.”

---

Tapi lagi-lagi,

gue takut.

---

Gue bahkan sampai mikir—

gimana kalau dia nggak terima?

Gimana kalau dia cerita ke orang-orang?

Gimana kalau sampai Ayah tahu?

---

Hancur.

---

Akhirnya, dengan sisa keberanian yang gue punya,

gue bilang ke dia—

“gue nggak bisa ngasih kamu apa-apa.

Mau kamu paksa kayak apa pun… gue tetap nggak bisa.”

---

Dan entah kenapa,

yang keluar setelah itu bukan marah.

Tapi—

“gue bakal doain kamu.

Semoga hidup kamu ke depan bisa lebih baik.

Lebih ke arah yang benar.”

---

Setelah itu…

gue lupa persisnya gimana.

Yang jelas,

semuanya mulai renggang.

Jarang telepon.

Jarang kabar.

---

Statusnya… gantung.

Dan jujur aja—

gue lebih milih begitu.

---

Dalam hati gue cuma mikir—

*yaudah, biar dia aja yang mutusin.*

Lebih aman.

Daripada gue yang mutusin,

terus dia dendam.

---

Karena waktu itu,

yang paling gue tahu cuma satu—

gue takut.

---

Sampai suatu hari,

gue datang ke sekolah telat.

Buru-buru masuk kelas,

napas masih nggak beraturan.

---

Dan hal pertama yang gue lihat—

Rania.

Dia sudah duduk di belakang.

Bareng Raka.

---

Gue langsung bengong.

Dalam hati gue cuma mikir—

*ini anak… lemah lembut sih iya,

tapi kalau urusan suka… kok nempel terus ya.*

---

Dan lagi-lagi,

tanpa gue siap—

cowok itu sudah duduk di sebelah kanan gue.

Damar.

---

Hari itu, pelajaran Bahasa Indonesia.

Disuruh bikin pidato sambutan.

Berpasangan.

Sesuai nomor absen.

---

Awalnya gue santai.

Biasanya gue berpasangan sama nomor 3.

Dan jujur aja,

gue cukup pede.

Gue termasuk yang kalau disuruh maju dadakan,

nggak terlalu takut.

---

Sampai gue sadar sesuatu.

---

Nomor absen gue… 4.

---

Artinya—

gue bakal sama nomor 5.

---

Dan saat guru nyebut nama gue—

yang keluar setelahnya adalah…

Damar.

---

Gue langsung diem.

Dalam hati cuma satu:

*capek.*

---

Serius.

Modelan cowok kayak gini

bisa bikin pidato?

---

Orang tiap hari kerjanya tidur.

Teler.

Kayak habis mikirin negara.

---

Dan sekarang…

gue harus kerja kelompok sama dia.

Yaudah, mau gimana lagi.

Gue coba bangunin dia.

“Mar… Damar… kalau lo nggak mau satu kelompok sama gue juga nggak apa-apa kok. Lo bisa bilang ke Pak Budi, nanti biar diganti aja…”

Padahal itu cuma alasan gue.

Biar gue nggak harus kerja bareng dia.

Di kepala gue cuma satu—

*ini anak rese banget.*

Sedangkan gue?

Gue ambis.

Dari kecil udah dituntut harus rapi, harus benar, harus sempurna—terutama soal nilai.

---

Dia bangun.

Langsung lihat gue.

Lama.

---

Tatapan itu lagi.

Aduh, gue benci banget.

Bukan yang nakutin.

Tapi kayak… ngintimidasi dengan cara santai.

Seolah dia ngerti gue, padahal enggak.

---

“Kamu nih cerewet ya.”

---

Sumpah.

Baru kali ini gue dibilang cerewet.

Langsung panas.

*Yaudah. Nggak lagi gue mau sama lo.*

Kampret.

---

Gue langsung diem.

Males nanggepin.

---

Tapi dia malah ambil buku.

Mulai nulis.

Cepat.

Kayak nggak mikir.

---

Beberapa menit kemudian,

dia dorong bukunya ke gue.

“Nih. Baca. Kalau ada yang kurang, rapihin.”

---

Gue kaget.

Bukan karena dia bisa bikin pidato dadakan.

Tapi karena—

*TULISANNYA.*

---

Astaga.

Ini tulisan apa?

Lebih parah dari resep dokter.

Serius.

Ini bukan tulisan manusia.

---

Dia ngelirik gue.

“Kenapa? Diam aja.”

---

Dan di situ—

tawa gue pecah.

---

“Ini tulisan apa sih?!”

“Gimana gue bacanya?”

“Lo mau jadi dokter ya?”

---

Dia santai banget jawab,

“Lah, dulu gue anak biologi.”

---

Gue langsung nengok.

“Hah?”

---

“Iya. Tapi gurunya nggak asyik. Jadi gue cabut. Pindah ke ekonomi aja.”

Dia ngangkat bahu.

“Nggak buruk kok. Bisa sering tidur.”

---

Dia berhenti sebentar.

Terus nambahin dengan nada enteng,

“Bonusnya… ketemu cewek aneh kayak lo tiap hari.”

---

Gue langsung melotot.

Dia malah senyum.

---

“Mrengut mulu,” lanjutnya.

“Padahal kalau senyum, manis juga.”

---

Gue mau kesel.

Serius.

Tapi anehnya—

nggak sepenuhnya bisa.

---

Dia condong sedikit.

Lalu bisik,

“Pacar lo ya yang bikin lo cemberut terus?”

---

Gue langsung diem.

---

“Dulu awal masuk kelas, gue sering lihat lo senyum,” katanya lagi.

“Walaupun emang… wajah lo judes sih.”

Dia ketawa kecil.

---

Dan entah kenapa—

di antara semua kekacauan yang lagi gue rasain,

pertanyaan itu…

kena.

Gue nggak langsung move on dari Adit.

Bahkan jujur aja, hubungan gue sama dia itu… nggak pernah benar-benar selesai.

Nggak ada putus yang jelas.
Nggak ada penutupan.
Cuma menggantung.

Kayak dua orang yang sama-sama tahu udah nggak baik,
tapi sama-sama nggak berani pergi.


Dan makin hari… semuanya makin nggak sehat.

Dia kadang hilang.
Terus muncul lagi.

Dan tiap muncul,
selalu bahas hal-hal yang bikin gue nggak nyaman.

Hal-hal yang harusnya nggak dibahas sama anak sekolah.


Sampai suatu hari,
Ibu gue ngomong empat mata.

Gue masih inget banget.

“Kalau temenan boleh. Tapi jangan pacar-pacaran diam-diam. Kalau mau kenal, ajak ke rumah. Jangan ketemuan sembunyi-sembunyi.”


Entah kenapa…

kata-kata itu kayak kena langsung ke gue.

Kayak Ibu tau sesuatu yang gue sendiri pura-pura nggak lihat.


Tapi tetap aja,
gue nggak berani ngakhirin.

Takut.

Takut dia marah.
Takut dia nyebarin cerita.
Takut Ayah tahu.


Jadi gue cuma jalanin.

Setengah ada.
Setengah nggak.


Sampai semuanya makin jelas arah rusaknya.


Suatu hari di sekolah,
jam kosong.

Guru nggak masuk.

Kelas jadi ribut kayak biasa.

Gue duduk di bangku sendiri,
HP di tangan, pura-pura nggak peduli.

Teman-teman sibuk sama dunianya masing-masing.

Rania?

Ah… udahlah.


Tiba-tiba—

dari belakang kelas, dekat loker,
ada suara ribut.

Awalnya gue cuek.

Biasanya juga begitu.


Tapi suara itu makin keras.

Teriakan.

Gerakan kursi.

Kayak sesuatu lagi lepas kendali.


Gue akhirnya nengok.

Dan yang gue lihat…

Arya dan Riko lagi berantem.


Riko bawa penggaris besi.
Arya angkat bangku.

Sumpah, kelas jadi chaos.


Anak-anak pada teriak.

Cowok-cowok mulai coba melerai…
tapi nggak ada yang berani dekat.

Mata mereka udah merah semua.


Bangku sempat diangkat lagi—

dan sebelum gue sempet mikir apa-apa—


BRAK.


Ada satu orang nyempil di tengah.

Nahan.

Pukulan Arya.


Dan semua orang langsung diam.

Kayak tombol pause ditekan.


“WOY—”

“DAMAR!”

“DAMAR!”


Gue langsung nengok.


Damar.


Dia jongkok di belakang bangku, jadi tadi gue nggak lihat jelas.

Pas dia bangun…

kepalanya pelan naik.

Dan di situ gue lihat—

seragam OSIS putihnya… udah berlumuran darah.


Tapi dia?

Masih santai.

Masih senyum.


“Woy… tissue. Tolong tissue.”


Sialan.

Orang lain panik.

Dia malah minta tissue.


Raka langsung nyamperin.

“Mar, lo nggak apa-apa? Darah lo banyak banget.”


Damar cuma nyengir.

Terus nempel tangan di pundak Raka.

“Tenang bro.”

Ketawa.


“Hahahaha.”


Dan itu makin bikin suasana absurd.


Nggak lama, guru BK masuk.

Langsung semua dipisah.

Arya sama Riko dipanggil keluar.

Damar disuruh ke UKS.


Tapi dia malah jawab santai,

“Udah Bu, aman.”

Pause sebentar.

“Tapi boleh nggak saya tiduran di kelas aja? Jangan diganggu.”


Semua diem.


“Dan… boleh nggak saya copot seragam ini?”


Guru BK cuma geleng kepala.

Kayak udah nyerah sama dunia.

Akhirnya cuma ngasih isyarat.

“Yaudah…”


Dan gue masih di situ.

Nonton semuanya kayak orang bingung.


Damar balik ke tempat duduknya.


Dan… duduk di sebelah gue lagi.


Dia lepas seragam atasnya.

Masih ada noda darah.

Gue refleks diem.

Nggak ngomong apa-apa.


Dia nyender santai.

“Nggak usah tegang gitu mukanya. Gue nggak apa-apa.”


Terus dia senyum lagi.

Masih ada sisa darah di hidungnya.

Dan gue, tanpa sadar—

ngasih tissue.


Dia mulai cerita.

Santai banget.

Kayak tadi nggak ada apa-apa.


“Hidung kalau dipukul kan emang gampang berdarah sih.”

“Ini mah nanti gue minta obat ke kakak gue.”


Gue langsung mikir.

“Kakak lo dokter?”


Dia langsung senyum.

“Apoteker.”


Gue diem.

Dalam hati cuma:

keluarganya kelihatan normal… tapi ini anak kenapa begini?


Dia lanjut lagi.

“Lo tau nggak kenapa gue tadi neken mereka?”

“Si Arya itu udah lama nyimpen dendam ke Riko.”

“Kalau tadi nggak gue tahan, dia bakal makin brutal.”


Gue dengerin.

Dan untuk pertama kalinya—

gue lihat dia bukan cuma “anak aneh”.


Tapi… dia baca situasi.

Cepat.

Instingnya jalan.


Gue ngeliatin dia lebih lama.

Nggak sadar.


Dan dia tiba-tiba nengok.

Senyum.

“Jangan terpesona gitu dong.”


Gue langsung buang muka.

Tapi entah kenapa…

gue nggak bisa nolak satu hal kecil di kepala gue—


kalau anak ini
bener-bener beda dari yang gue kira.

Dan sejak hari itu,
gue mulai sadar satu hal…

nggak semua hal yang kelihatan “berjalan”
itu benar-benar baik-baik aja.

Adit masih ada.

Tapi nggak pernah benar-benar “di sana”.

Hubungan itu tetap jalan…
tapi lebih mirip bayangan yang ikut gue ke mana-mana.

Nggak hangat.
Nggak jelas.
Cuma ada.


Dan di sela semua kekacauan itu…

gue mulai sering nemuin satu hal baru.

Seseorang yang nggak gue cari.
Tapi selalu muncul di tempat yang sama.

Damar.


Awalnya gue pikir dia cuma gangguan.

Cowok aneh, nyebelin, kebanyakan tidur,
dan terlalu santai buat dunia yang gue jalani.

Tapi makin ke sini…

dia kayak punya cara sendiri buat masuk tanpa izin.



Gue nggak tahu saat itu…

kalau sesuatu yang selama ini gue kira “gangguan kecil”
pelan-pelan mulai berubah jadi sesuatu yang lain.

Sesuatu yang gue belum punya nama untuk itu.


Dan mungkin…
itulah awal sebenarnya dari semuanya.

BAB III Orang Yang Datang Tanpa Diminta

Gue pikir hidup bakal tetap jalan di jalur yang sama.

Sekolah.
Rumah.
HP.
Dan Adit yang entah masih ada atau cuma numpang lewat.

Gue pikir itu cukup.

Sampai gue sadar…

nggak semua yang kita anggap “cukup”
itu benar-benar bikin tenang.


Karena pelan-pelan…
ada sesuatu yang mulai geser.

Bukan dengan suara keras.

Tapi dengan cara paling pelan yang bisa ada—

hadir terus tanpa gue sadari.

Hari itu harusnya biasa aja.

Tapi entah kenapa…
gue ngerasa ada yang beda dari pagi.

Nggak jelas.

Cuma perasaan kecil yang ganggu di kepala.


Gue masuk kelas kayak biasa.

Seragam rapi.
Buku di tangan.
HP di tas.

Semua terlihat normal.

Tapi begitu gue masuk…

gue langsung berhenti.


Rania.

Duduk di belakang.

Bareng Raka.

Lagi-lagi.


Gue nggak ngerti kenapa,
tapi gue langsung mikir—

ni anak kalau suka seseorang, serius banget ya…


Gue duduk di bangku gue.

Baris kedua dari depan.

Dan seperti biasa…

di sebelah gue ada dia.

Damar.


Dia lagi nyender di meja.

Kepala miring.

Seolah dunia ini nggak punya hal penting buat dia.


“Lo telat lagi?” katanya tanpa lihat gue.


Gue langsung duduk.

“Emang urusan lo?”


Dia ketawa kecil.

“Urusan gue ya lo duduk di sebelah gue.”


Gue langsung melotot.

“Tuh mulut lo emang nggak bisa diam ya?”


Dia akhirnya nengok.

Senyum tipis.

“Bisa sih. Tapi kalau nggak ngomong ke lo, kelas jadi sepi.”


Gue langsung diem.

Nggak tahu harus jawab apa.


Beberapa detik hening.

Tapi anehnya…

nggak canggung.


Dia buka buku.

Tapi nggak dibaca.

Cuma ditaruh di meja.


Gue lihat dia sekilas.

“Lo nggak belajar?”


“Belajar apa?” jawabnya santai.


“Ya pelajaran.”


Dia nyender lagi.

“Gue belajar hidup aja udah capek.”


Gue mau nyolot.

Tapi nggak jadi.


Karena entah kenapa…

gue malah senyum kecil.

Tipis banget.

Tapi ada.


Dan itu… gue sadar.


Damar langsung nengok.

“Eh.”


“Apaan?”


“Lo barusan senyum?”


Gue langsung balik muka.

“Enggak.”


Dia ketawa.

“Boong banget.”


Gue ambil buku, pura-pura sibuk.

“Lo tuh ganggu banget sih.”


Dia nggak jawab.

Tapi masih senyum.


Dan anehnya…

hari itu baru mulai.


Pelajaran belum mulai.

Guru belum masuk.

Tapi kelas udah ribut kayak biasa.


Tiba-tiba…

ada satu lembar kertas digeser ke meja gue.


Gue nengok.

Damar.


Di kertas itu cuma ada tulisan:

“Lo tadi beneran senyum.”


Gue langsung liat dia.

“Lo kurang kerjaan ya?”


Dia angkat bahu.

“Bukan. Gue cuma penasaran.”


“Penasaran apaan sih?”


Dia nyender lagi.

“Lo tuh sebenarnya orangnya kayak gimana sih.”


Gue diem.


Pertanyaan itu…

harusnya gampang dijawab.

Tapi entah kenapa…

gue nggak langsung punya jawaban.


“Gue biasa aja,” akhirnya gue jawab.


Dia geleng kecil.

“Nggak.”


“Lo tuh nggak biasa.”


Gue langsung menoleh.

“Lo kenal gue berapa lama sih?”


Dia senyum lagi.

“Cukup buat tau lo sering pura-pura kuat.”


Gue langsung diam.


Dan di detik itu…

gue ngerasa sesuatu yang aneh.


Bukan takut.

Bukan marah.

Tapi… kayak ketahuan.


Gue langsung ambil pulpen.

Nulis cepat di kertas itu.


“Lo tuh sotoy banget ya orangnya.”


Gue balikin ke dia.


Dia baca.

Terus ketawa pelan.


“Yaudah,” katanya.

“Kalau gue sotoy…”

“lo jangan senyum lagi dong.”


Gue langsung melotot.

“Apaan sih?”


Dia cuma nyender lagi.

“Biar gue nggak penasaran.”


Dan untuk pertama kalinya…

gue sadar satu hal kecil.


Hari ini nggak terasa sepi.


Bukan karena pelajaran.

Bukan karena teman-teman.


Tapi karena orang yang duduk di sebelah gue itu…

terlalu berisik untuk diabaikan.

Hari itu pelajaran Matematika.

Dan jujur aja…

gue sudah pasrah dari awal.


Sistemnya kelompok.

Empat-empat.

Dan tanpa perlu mikir panjang…

gue udah bisa nebak gue bakal satu kelompok sama siapa.

Rania.

Raka.

Dan…

Damar.


Dan bener aja.


Awalnya biasa.

Gue duduk, liat soal di papan, pura-pura ngerti.

Padahal di kepala gue cuma satu:

ini apaan sih.


Sampai tiba-tiba…

Damar angkat tangan.


Gue langsung nengok.

“Lo ngapain sih?” gue bisik.


Dia berdiri.

Jalan ke depan kelas.

Santai banget.

Kayak bukan lagi di pelajaran matematika.


Gue cuma bisa liat.

Diam.


Dan yang bikin gue makin bengong—

dia ngerjain soal itu.

Langsung.

Tanpa banyak mikir.


Yang gue kira susah banget tadi…

dia pecahin kayak itu hal receh.


Kelas sempat hening.

Terus guru bilang dia benar.


Dan kelompok gue…

jadi yang paling unggul.


Gue langsung bengong.

“Lah… kok bisa?”


Dari situ, gue mulai mikir—

ini anak sebenernya siapa sih?


Pelajaran lanjut.

Soal baru dikasih.

Dan kali ini…

gue bener-bener stuck.


Gue liatin kertas.

Kosong.

Mikir.

Tetap kosong.


Raka nengok.

“Mar, ini gimana?”


Damar nyender.

“Gue juga mau nanya itu.”


Rania ketawa kecil.

“Yaudah kita belajar bareng aja nanti.”


Raka langsung nyaut.

“Gue ikut deh. Abis pulang sekolah belajar bareng yuk.”


Dia nengok ke gue.

“Lu gimana, Lun?”


Gue diem sebentar.


Belajar bareng.

Di rumah gue.


Ini pertama kalinya.

Temen-temen mau main ke rumah gue.


Dan ada satu hal yang bikin gue makin ragu—

di situ ada cowok.


Gue mikir lama.

Terus akhirnya jawab pelan,

“yaudah deh…”


Belum sempet selesai…

Damar nyelutuk.


“Kalau nggak boleh juga nggak apa-apa kok.”

Dia senyum nyebelin.


Rania langsung kesel.

“Ihh apaan sih lo, Mar.”

“Boleh lah! Ibu Aluna kan baik banget.”


Damar langsung nengok.

“Oh ya?”

Matanya berbinar.

“Wah, nggak sabar ketemu.”


Raka ikut nimbrung.

“Cantik nggak emang ibunya?”


“Apaan sih lo!” gue langsung nyaut.


Damar ketawa kecil.

“Cantik sih.”


Gue langsung melotot.

“Lo kenapa ngomong gitu sih?”


Raka ngakak.

“Kayak anak lo aja Mar.”


Gue nggak ngerti kenapa…

kelas jadi ribut sendiri.


Dan akhirnya disepakati.


Kita belajar bareng di rumah gue.


Rania sama Raka berangkat duluan.

Boncengan.


“Lu sama Damar aja ya, Lun,” kata Rania.


Gue langsung geleng.

“Nggak… gue sama sepupu gue aja.”


Alasan gue sederhana.

Gue takut.


Takut kalau Ayah lihat.

Takut kalau salah langkah.


Damar ngeliat gue.

“Tenang, nggak bakal ketahuan cowok lo.”


Gue langsung diam.


“Bukan gitu…”


Gue nggak bisa lanjut.


Dia mendadak serius.

“Kenapa?”


Gue tarik napas pelan.

“Gue… takut dimarahin Ayah.”


“Gue nggak pernah boncengan sama cowok.”

“Apalagi bawa cowok ke rumah.”


Gue nunduk.

“Turunin gue di gang depan aja ya, Mar.”


Sunyi sebentar.


Damar tiba-tiba mendekat.

Wajahnya agak serius sekarang.


“Tenang.”


“Gue yang bakal tanggung jawab kalau Ayah lo marah.”


Gue langsung nengok.


Dia lanjut pelan,

“Gue nanti izin langsung ke Ayah lo.”

“Biar nggak ada salah paham.”


Dia berhenti sebentar.

Terus senyum kecil.


“Dan satu lagi…”

“nggak sopan nurunin cewek di pinggir jalan.”


“Bukan gaya gue.”

Perjalanan ke rumah gue…

rasanya beda.

Bukan karena jauh atau lama.

Tapi karena gue tahu, setelah ini—

hidup gue lagi masuk ke bagian yang gue sendiri belum siapin.


Sepanjang jalan, gue lebih banyak diem.

Rania sama Raka di depan.

Ketawa-ketawa.

Damar di samping gue.

Nggak banyak ngomong.


Tapi anehnya…

keheningan sama dia itu nggak terasa canggung.

Cuma… tenang.


“Lo beneran takut banget sama bokap lo?” dia tiba-tiba nanya.


Gue langsung nengok.

“Ya… emang.”


Dia angkat alis sedikit.

“Se-serem itu?”


Gue nggak langsung jawab.

Karena bukan cuma “serem”.

Tapi aturan-aturan di rumah gue itu kayak batas yang nggak boleh dilewatin.


“Bukan serem,” gue akhirnya jawab pelan.

“Tapi… kalau salah dikit aja, semuanya bisa berubah.”


Damar diem.

Nggak langsung komentar.


Dan untuk pertama kalinya…

dia nggak nyebelin.


Kami sampai di gang rumah gue.

Gue langsung turun dari motor.

Nafas gue agak nggak enak.


“Udah sini aja,” gue bilang.


Damar turun juga.

“Gue ikut sampai depan.”


Gue langsung panik kecil.

“Enggak usah…”


Dia lihat gue.

Santai.

Tapi tegas.

“Gue udah bilang gue tanggung jawab.”


Gue nggak bisa nolak.


Kami jalan bareng.

Pelan.


Rumah gue makin dekat.

Dan jantung gue makin nggak tenang.


Sampai akhirnya…

gue lihat pagar rumah gue.


Gue berhenti.

“Udah sini aja.”


Damar juga berhenti.


Dia lihat rumah gue.

Nggak banyak komentar.

Cuma… ngangguk kecil.


“Lo masuk dulu,” katanya.


Gue bingung.

“Lo nggak ikut?”


Dia senyum tipis.

“Gue tunggu di sini.”


“Biar gue lihat situasinya dulu.”


Gue langsung melotot.

“Apaan sih lo?”


Dia ketawa kecil.

“Tenang.”

“Gue nggak mau bikin lo makin ribet.”


Dia mundur sedikit.

“Masuk.”


Gue masih diam.


Tapi akhirnya…

gue jalan.


Langkah gue berat.

Kayak bawa sesuatu yang nggak kelihatan.


Gue buka pintu pagar.

Masuk.


Dan sebelum gue benar-benar hilang di dalam rumah—

gue sempet nengok lagi.


Damar masih di situ.

Berdiri.

Nunggu.


Dan untuk pertama kalinya…

gue ngerasa aneh.


Bukan takut.

Bukan juga nyaman.

Tapi…

kayak ada seseorang yang beneran “nahan” dunia gue supaya nggak jatuh terlalu jauh.


Gue masuk rumah.

Pintu nutup.


Dan di luar sana…

Damar masih berdiri di tempat yang sama.

Nunggu sesuatu yang bahkan dia sendiri belum tahu akan selesai atau nggak.

Gue masuk rumah dengan langkah pelan.

Tapi hati gue… nggak pelan sama sekali.


Sepi.

Seperti biasa.

Orang rumah lagi nggak ada.

Dan itu seharusnya bikin gue tenang.

Tapi kali ini…

nggak.


Karena di luar pagar rumah gue…

Damar masih ada.

Nunggu.


Gue balik lagi ke depan.

Buka pintu pelan.

“Masuk aja,” gue bilang.


Dia ngelihat gue sebentar.

Terus masuk.

Tanpa banyak ngomong.


Di dalam rumah, dia cuma berdiri sebentar.

Lihat sekeliling.

Nggak norak.

Nggak komentar.

Cuma… observasi.


“Gue boleh cuci kaki?” dia tiba-tiba tanya.


Gue langsung kaget kecil.

“Hah?”


“Ya… biar nggak kotor di dalam.”


Gue bengong.

Orang ini…

aneh banget.


“Yaudah… kamar mandi sana,” gue jawab akhirnya.


Dia ngangguk.

“Thanks.”


Dia jalan ke kamar mandi.

Dan gue di ruang tamu sendirian.


Harusnya gue belajar.

Harusnya gue fokus.

Tapi yang ada di kepala gue cuma satu—

ini orang beneran lagi di rumah gue.


Beberapa menit kemudian…

pintu kamar mandi kebuka.


Gue nengok.


Damar keluar.

Rambutnya agak basah di ujung.

Baju masih rapi.

Tangannya nyeka sedikit air di wajah.


“Udah,” katanya santai.


Gue cuma ngangguk.

Nggak tahu harus bilang apa.


Tapi detik itu—


Terdengar suara dari luar.


Pagar kebuka.


Langkah.


Gue langsung berhenti.


Dan suara itu…

gue hafal.


Ibu.


Darah gue langsung turun.


“Lun, Ibu pulang—”


Suara itu makin dekat.


Gue langsung nengok ke Damar.

Matanya langsung berubah.


Bukan panik.

Tapi sadar.


“Gue sembunyi?” dia bisik cepat.


“Enggak— enggak, tunggu—”


Terlambat.


Pintu rumah kebuka.


Ibu masuk.


Dan dunia gue…

berhenti.


Pandangan Ibu langsung jatuh ke ruang tamu.


Ke gue.


Lalu…

ke Damar.


Sunyi.


Gue bahkan bisa denger detak jantung gue sendiri.


“Lun…”

Suara Ibu pelan.

Tapi tajam.


“Siapa itu?”


Gue nggak bisa langsung jawab.

Mulut gue kering.


Damar maju sedikit.

Tenang.

Terlalu tenang untuk situasi ini.


“Selamat sore, Bu.”


Gue langsung panik dalam hati.

ya Tuhan… ini anak kenapa santai banget sih?!


Ibu masih diam.

Matanya nggak lepas dari Damar.


Dan Damar…

justru sedikit menunduk.

Sopan.


“Saya teman sekolah Aluna, Bu.”


Sunyi lagi.


Gue berdiri di tengah.

Nggak tahu harus jadi apa.


Ibu tarik napas pelan.

“Lun… ini siapa?”


Gue buka mulut.

Tutup lagi.


Sebelum gue jawab…

Damar ngomong lagi.


“Maaf, Bu. Saya tadi cuma bantu tugas kelompok. Nunggu Aluna selesai sebentar.”


Gue nengok dia cepat.

tolong… ini improvisasi atau dia emang niat nyelametin gue?


Ibu masih diam.

Tapi tatapannya nggak sedingin tadi.


Gue bisa lihat…

dia lagi menilai.


Damar tetap berdiri.

Nggak mundur.

Nggak gelisah.


Dan untuk pertama kalinya…

gue lihat dia benar-benar serius.


Bukan anak nyebelin di kelas.

Bukan cowok yang bercanda terus.


Tapi seseorang yang…

lagi bertanggung jawab atas situasi yang bahkan bukan salah dia sepenuhnya.


Ibu akhirnya menghela napas.

“Belajar di ruang tamu saja.”


Suara itu bukan marah.

Tapi… peringatan.


Damar langsung mengangguk.

“Baik, Bu.”


Ibu masuk ke dalam.


Dan begitu dia hilang di lorong…

gue langsung lemes.


“Lo gila ya?” gue bisik ke Damar.


Dia cuma senyum kecil.

“Lo yang ngajak gue masuk.”


Gue langsung melotot.

“Bukan gitu konteksnya!”


Dia ketawa pelan.

“Tapi gue nggak kabur kan?”


Gue diem.


Iya.

Dia nggak kabur.


Dan itu yang bikin gue makin bingung.


Karena di tengah rasa takut tadi…

ada satu hal kecil yang nggak bisa gue bantah.


Dia tetap di situ.

Berdiri.

Sampai akhir.

Harusnya ini belajar kelompok.

Empat orang.

Rania, Raka, gue, dan Damar.

Tapi entah kenapa…

Rania sama Raka tiba-tiba “hilang”.

Dan gue nggak butuh waktu lama buat ngerti.


Ya… mereka kayaknya lagi sibuk sendiri.


Akhirnya cuma gue sama Damar.

Dua orang.

Di rumah gue.

Dalam situasi yang gue sendiri nggak pernah bayangin bakal kejadian.


Damar duduk di lantai ruang tamu.

Santai banget.

Nggak kayak orang yang lagi “bertamu”.

Lebih kayak… udah biasa di situ.


Dia buka laptopnya.

“Gue putar sesuatu ya, biar nggak tegang,” katanya.


Gue langsung nengok.

“Belajar Matematika, bukan nonton.”


Dia senyum.

“Belajar juga bisa lewat film.”


Gue mau protes.

Tapi dia udah pencet play.


Film mulai jalan.

Mika.


Gue langsung diem.


Gue suka film itu.

Tanpa alasan yang jelas.

Tapi ada sesuatu di dalamnya yang bikin gue nahan napas pelan tiap kali nonton.


Dan sekarang…

film itu ada di rumah gue.

Diputar sama dia.


Gue melirik ke Damar.

Dia nggak lihat gue.

Dia cuma fokus ke layar.


Tapi entah kenapa…

rasanya beda.


Di tengah film itu…

Ibu gue keluar dari dapur.


“Lun, temen kamu ini makan ya.”


Sebelum gue jawab,
Ibu sudah naruh piring.

Minuman.

Kue.

Kayak Damar bukan tamu biasa.


Gue langsung panik kecil.

“Ibu…”


Tapi Ibu malah senyum.

“Belajar ya kalian?”


Damar langsung berdiri sedikit.

“Saya bantu Aluna belajar, Bu.”


Ibu ngangguk.

“Bagus.”


Dan entah kenapa…

suasana jadi aneh.

Tapi bukan buruk.


Lebih ke…

hangat.


Ibu duduk sebentar di dekat kami.

Nanya hal-hal kecil.

Damar jawab sopan.

Nggak lebay.

Nggak sok.


Dan gue lihat sesuatu yang jarang gue lihat di rumah sendiri.


Ibu gue… nyaman.


Biasanya beliau hati-hati sama orang asing.

Tapi sama Damar…

dia kayak nggak merasa harus waspada.


Film tetap jalan di laptop.

Suara pelan.


Gue duduk agak jauh.

Nggak banyak ngomong.

Tapi nggak merasa sendirian.


Damar tiba-tiba miring sedikit ke arah gue.

Pelan.

“Nama ibu lo siapa?” bisiknya.


Gue nengok.

“Maria.”


Dia ngangguk kecil.

“Nggak aneh ya… cocok.”


Gue melotot pelan.

“Cocok apanya?”


Dia senyum.

“Cocok jadi ibu yang galak tapi baik.”


Gue langsung mau protes.

Tapi ketahan.

Karena Ibu masih ada di situ.


Dan Damar…

balik lagi nonton film.

Seolah nggak terjadi apa-apa.


Tapi gue sadar satu hal kecil.


Hari ini harusnya biasa.

Belajar.

Ribut kecil.

Selesai.


Tapi sekarang…

gue lagi duduk di ruang tamu sendiri.

Nonton film yang gue suka.

Bareng orang yang bahkan gue nggak tahu kenapa dia ada di sini.


Dan anehnya…

gue nggak pengen dia pergi dulu.

Malamnya rumah gue balik lagi jadi sepi.

Tapi kali ini…

sepinya beda.

Bukan sepi yang biasa.

Lebih kayak… ada sesuatu yang baru aja lewat, tapi jejaknya masih tinggal.


Gue duduk di kamar.

Lampu redup.

HP di tangan.

Tapi gue nggak benar-benar buka apa-apa.

Cuma… diem.


Film tadi masih muter di kepala gue.

Mika.

Bukan cuma filmnya.

Tapi momen di ruang tamu itu.

Ibu gue.

Damar.

Suasana yang entah kenapa… nggak kaku.


Gue geser badan.

Narik selimut.

Tapi tetap nggak bisa tidur.


Biasanya, malam gue itu jelas.

Belajar.
HP sebentar.
Tidur.


Tapi sekarang…

ada bagian yang nggak selesai.


HP gue getar.

Satu notifikasi.


Gue langsung lihat.


Damar.


“Udah masuk rumah?”


Singkat.

Nggak ada tambahan apa-apa.


Gue bengong sebentar.

Harusnya ini biasa aja.

Harusnya gue jawab singkat.

“udah”

Selesai.


Tapi gue malah diem lama.


Kayak… ada bagian kecil dalam diri gue yang nunggu chat itu datang.

Dan sekarang udah datang.


Gue akhirnya balas:

“udah.”


Beberapa detik kemudian…

balasan lagi.


“ibu lo baik.”


Gue senyum kecil tanpa sadar.


“iya.”


Hening lagi.


Tapi anehnya…

hening ini nggak kosong.


Lebih kayak dua orang yang nggak punya alasan buat lanjut ngobrol…

tapi juga nggak pengen berhenti.


“lo suka film tadi?” dia chat lagi.


Gue diem.


Harusnya jawab “iya” aja.

Tapi jari gue malah ngetik:

“iya.”

“tapi lo ganggu banget tadi.”


Send.


Beberapa detik.


“gue ganggu tapi lo nggak nyuruh gue pergi.”


Gue langsung berhenti.


Ngelihatin layar.


Dan di situ…

gue nggak langsung bisa jawab.


Karena itu benar.


Harusnya gue bisa nolak.

Harusnya gue bisa bilang stop.

Tapi gue nggak.


Gue malah diem.

Ngalihin.

Ngelewatin.


Dan sekarang dia ngomongin itu seolah dia tahu.


Gue akhirnya balas:

“lo kepedean.”


Damar read.

Nggak langsung bales.


Beberapa menit.


Baru muncul lagi:

“gue cuma nanya.”

“soalnya lo beda kalau lagi sama gue.”


Gue langsung diam.


Beda.


Kata itu kayak nempel di kepala gue lebih lama dari seharusnya.


Gue geser HP ke samping.

Narik napas pelan.


Harusnya ini cuma tugas kelompok.

Harusnya ini cuma pertemanan.

Harusnya ini biasa.


Tapi kenapa…

rasanya nggak pernah sesimpel itu lagi.


Gue lihat langit-langit kamar.


Dan untuk pertama kalinya malam itu…

gue mikir bukan soal Adit.


Tapi soal satu hal kecil yang bikin gue nggak tenang:


kenapa orang yang paling nggak gue rencanain…

jadi orang yang paling sering gue pikirin akhir-akhir ini.

BAB IV — TARIK ULUR YANG TAK TERUCAP


Sejak hari-hari itu,

semuanya mulai terasa… berbeda.


Bukan cuma karena Adit.


Tapi juga karena Damar.


Damar itu aneh.


Awalnya biasa aja—

sekadar teman sekelas yang duduk nggak jauh dari gue.


Tapi entah sejak kapan,

dia jadi sering pindah duduk ke sebelah gue.


Dan… dia banyak banget ngomong.


Tentang ibunya yang kerja sebagai ahli gizi,

tentang kakaknya yang apoteker,

tentang rumahnya,

tentang hal-hal kecil yang bahkan nggak pernah gue tanya.


Aneh ya…


tapi justru itu yang bikin suasana jadi hidup.


Nggak kosong.


Nggak diam.


—


Berbeda sama Adit.


Adit selalu ada…

tapi cuma di malam hari.


Setiap malam,

dia selalu minta ditemenin sleep call.


Obrolannya?

Nggak jelas.


Kadang random.

Kadang terlalu jauh.


Kalimat “kangen”

diulang-ulang seperti itu satu-satunya hal yang dia punya.


Tapi…


nggak pernah ada tindakan.


Nggak pernah benar-benar hadir.


Sekadar datang ke rumah gue

dengan alasan “teman” pun nggak pernah.


Seolah-olah,

dia cuma ada sejauh sinyal mengizinkan.


—


Sampai hari itu.


Hari yang harusnya biasa aja.


Gue dapat tugas kliping—

semacam makalah,

tapi isinya gambar.


Dan karena waktu itu internet belum semudah sekarang,

gue harus ke warnet.


Sendirian.


Karena gue nggak satu kelompok sama Raka,

Rania,

atau… Damar.


Gue masih ingat jelas,

selesainya sekitar jam empat sore.


Langit mulai berubah warna.


Dan seperti biasa—


Kudus kalau sudah sore,

angkot susah banget.


Gue nunggu.


Lama.


Semakin lama.


Sampai matahari hampir tenggelam,

dan gue belum dapat apa-apa.


Gue coba telepon Ibu.


Nggak diangkat.


Dan di situ…


untuk pertama kalinya,

gue mulai ngerasa sedikit panik.


—


Tiba-tiba—


suara motor berhenti di depan warnet.


Gue nengok.


Sebuah Vario hitam.


Dan…


dia.


Damar.


Dia buka helm,

lalu nyengir santai.


“Kan tadi udah bilang, kalau kesorean chat aja.”


Gue cuma diam.


Jujur,

gue nggak enak.


Takut ganggu.


—


“Yaudah, ayo.”


Sesimpel itu.


Seolah itu hal yang paling wajar di dunia.


—


Dan sebelum gue sempat jawab—


dia melepas hoodie putih yang dia pakai,

lalu nyodorin ke gue.


Gue bengong.


Bener-bener nggak paham.


Dia lihat gue yang masih diam,

lalu bilang santai—


“Pakai. Biar nggak panas. Matahari masih nyisa.”


Deg.


Entah kenapa…


hal sekecil itu terasa besar.


—


Gue pakai hoodie itu.


Canggung.

Malu.

Aneh.


Tapi… hangat.


Bukan cuma karena kainnya.


—


Gue naik ke belakang motornya.


Pelan.


Masih nggak percaya

kalau akhirnya gue pulang… bareng dia.


Angin sore kena wajah gue.


Dan untuk beberapa detik—


gue lupa semuanya.


Tentang Adit.


Tentang chat.


Tentang malam-malam yang gue tunggu.


—


Yang ada cuma satu pikiran kecil

yang tiba-tiba muncul tanpa izin—


“Kalau yang kayak gini… harusnya begini, ya?”


—


Dan di saat yang sama,

di dalam tas gue—


HP gue bergetar.


Berulang.


Tanpa gue lihat pun,

gue sudah tahu itu siapa.


Adit.


—


Tapi untuk pertama kalinya…


gue nggak langsung meraih HP itu.



Komentar

Postingan populer dari blog ini